Suara Azan

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Selepas mendekati waktu istirahat kantor, qu pacu vario seksi menuju kediamanqu. Tanpa biasa qu lewati arah yang ab normal, dimana aqu melintasi sebuah Masjid besar nan megah bertahtakan kubah besar pelindung ruang. Dari kejauhan panggilan sholat terdengar dari menara qubah masjid itu. Seberapa tumbak kuhentikan pacuanqu, aqu terperangah dan sedikit galau mendengar panggilan itu entah mengapa.

Suara azan yang terdengar itu laksana suara kematian, sember banyak yang terbata, qu coba tengok siapa pemilik suara azan itu. Subhannallah suara itu keluar dari sosok tua dan bahkan renta yang dalam melantunkan suara azannya menggunakan lengan berselimut urat. Miris aqu menyaksikan fenomena ini qu hirup air wudhuqu dengan tetesan kesedihan. setelah tuntas wudhuqu sosok tua itu tengah melakukan sunnah qobliyah zuhur. aqu ikut disisi kirinya namun bukan untuk berjama’ah.

Setelah selesai qobliyah qu beranikan menyapa salam dan mencium tangannya, selang beberapa menit sosok tua itu memintaqu untuk qomat, aqu bergegas dengan lantang tanpa pengeras suara. Kemudian sosok tua itu menggeser ke bagian kiri dan mempersilahkan sang imam yang muda dan mungkin dia imam Masjid karena sorban yang dikenakannya menjuntai hingga lutut.

Sepuluh menit berakhir tinggalah aqu dan sosok itu yang masih duduk bersimpuh meratap do’a, sementara sang imam entah sudah dimana?. Qulirik beberapa kali sosok itu masih bersila menggoyang kepala sementara jemarinya memilah tasbeh. Maksud hati setelah selesai zikir aqu ingin mengenal sosok itu. Dimenit kelima belas sosok itu menyelesaikan ba’diyah zuhur, dengan tetap lamban namun teratur.

Selesailah waktu yang qutunggu dan saat beliau akan beranjak kembali kusodorkan tangan ini untuk bersalaman dengannya, seraya bertanya “kek eh pak, boleh tau nama bapak?”. sosok itu menyuara “mbah min”. dengan senyum mbah min menerima ciuman tangannya. saya isro mbah, maap mbah, mbah tinggal dimana? mbah min kembali tersenyum sambil menunjuk bagian kiri serambi masjid. oo ternyata mbah min tinggal di masjid ini.

Aqu beranjak satu hibroh qu dapat dari sosok mbah min yang renta masih mau menyuarakan azan, tapi kembali teringat dengan sang Imam yang masih gagah dan muda kenapa bukan beliau yang azan. ah sudahlah Allah maha segalanya. qu lanjut keperjalanan pulang sambil mengantungi pelajaran islam dimasa kini. Sang muda lebih pelit menyuarakan panggilan dibanding dengan mbah min

Dengan tidak mengurangi makna azan dan tanpa melukai ruhaniawan hidangan ini tersaji dengan tetap bukan untuk melukai namun sekedar coretan siang yang terhidang

Salam Takzim Batavusqu

Iklan

10 pemikiran pada “Suara Azan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s