Tradisi khitan Masyarakat Sulsel (Bagian 3 habis)

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Setelah mengikuti upacara mappasilli dan upacara Nipasintinggi Bulaeng tentunya masih belum sempurna penyelenggaraan adat khitan bagi masyarakat Sulawesi Selatan bila upacara Appammata dan Mammata-mata/ramah tamah. Nah bagaimana penyempurnaan upacara khitan bagi masyarakat Sulawesi Selatan mari kita simak bersama

V. Appamatta

Appamatta adalah upacara pemaparan gigi, yaitu meratakan gigi sang anak dengan harapan agar sang anak kelak menjadi manusia yang arif dan bijaksana.

Alat dan Bahan Upacara :

  1. Cincin emas milik ibu yang akan dikhitan
  2. Tiga batang daun pelepah pepaya
  3. Air dalam mangkuk beralaskan piring putih.

Jalannya Upacara :

Sang anak yang akan disunat duduk diatas bantal yang telah dilapisi dengan 7 lembar sarung milik orang yang dianggap berhasil dalam kehidupannya dimaksudkan agar si anak dapat pula berhasil dalam kehidupannya kelak, begitu pula setiap tindakan dan langkahnya.

Sarung diatur selapis demi selapis diatas bantal oleh sanro, kemudian sang anak ditidurkan di atas bantal tersebut.

Cincin bersama tiga batang pelepah pepaya direndam pada mangkuk putih yang berisi air dengan harapan sang anak dalam mengarungi kehidupannya akan selalu cemerlang, secemerlang kilaunya emas yang abadi sepanjang masa.

Selanjutnya sang anak digosok giginya oleh sanro dengan cincin emas tersebut sambil membacakan doa–doa yang disaksikan oleh kedua orang tua, keluarga serta kerabat.

VI. Mammata – mata / Ramah Tamah

Mammata–mata adalah suatu rangkaian acara di mana para keluarga dan handai taulan berkumpul untuk mengikuti suatu acara yang dinamakan ”mappacci”. Mappacci dalam bahasa Bugis bila diberi akhiran ”ng” akan berbunyi paccing atau bersih, jadi mappaccing artinya pembersihan.

Mammata–mata merupakan wujud masyarakat Bugis Makassar dalam konsep Abbulo Sibatang atau Masseddi Siri. Namun sebelum acara ini berlangsung terlebih dahulu diadakan acara ”Khatamul Qur’an” yaitu acara penamatan Al-Qur’an bagi sang anak dipimpin oleh seorang guru mengaji, disaksikan oleh kedua orang tua, keluarga dan kerabat.

Syarat–syarat Khatamul Qur’an :

  • 12 macam kue – kue tradisional dalam bosara
  • Songkolok (beras ketan yang dikukus) bersama lauknya, yang lazim adalah ayam
  • Peci hitam, sarung, dan sajadah untuk anak laki – laki, mukenah, sarung, dan sajadah untuk anak perempuan
  • Tikar, bantal dan guling.

Selesai sang anak Khatamul Qur’an, maka semua syarat–syarat tersebut diantar ke rumah guru mengaji yang telah menamatkan sang anak oleh beberapa orang yang berpakaian adat, hal ini menandakan rasa terima kasih dan penghormatan orang tua si anak kepada guru mengaji sang anak.

Setelah acara ini selesai dilanjutkan dengan acara “Barzanji”, yaitu suatu acara dimana beberapa orang laki–laki bergantian membaca riwayat rasulullah Muhammad SAW dan diakhiri dengan doa bersama kepada Allah SWT agar sang anak yang akan dikhitan mendapat rahmat dan petunjuk mengarungi kehidupannya kelak di kemudian hari.

Dalam acara barzanji disediakan beberapa macam kue–kue tradisional dan songkolok “Kaddo minnyak” dan beberapa sisir pisang raja. Selesai acara barzanji dilanjutkan dengan acara mammata–mata.

Dengan diapit oleh kedua orang tua sang anak di dalam Baruga di bawah pelaminan, sang anak duduk sambil menanti acara mammata–mata.

Perlengkapan dalam acara mammata–mata adalah :

  • Daun pacci / pacar yang ditumbuk halus
  • Tempat pacci
  • Serbet
  • Tempat cuci tangan
  • Bantal
  • Daun pisang untuk alas bantal.

Sebelum acara mammata–mata dimulai, semua alat–alat telah tersedia, untuk lebih melancarkan jalannya upacara. Dimulai dari orang yang dituakan di daerah setempat memberikan daun pacci ke telapak tangan sang anak, dimaksudkan agar rezeki yang diperoleh merupakan rezeki yang halalan tayyiban, dan diridhoi Allah SWT, kemudian dilanjutkan oleh keluarga, kerabat dan lain–lain, acara pemberian daun pacci diakhiri oleh kedua orang tua sang anak.

Dalam acara mammata–mata disemarakkan oleh berbagai macam kesenian, seperti lagu–lagu daerah, tari–tarian, dan lain sebagainya . Acara ditutup dengan santap malam atau jamuan serta pemberian ucapan selamat.

VII. Assunna / Massunna

Acara Assunna / Massunna adalah merupakan acara inti dari segala acara yang telah disebutkan. Dengan didampingi oleh kedua orang tua anak, dalam keadaan posisi tidur bersandar (nibaeang / nisanre) diatas bantal berlapis daun pisang, yang bermakna kehormatan dan kesinambungan hidup.

Sebelum disunat seorang sanro menuntun sang anak mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian seorang laki–laki berpakaian jas tutup, sarung sutera dan songkok pamiring (racca) serta memegang keris tampil untuk “Mangngaru” dengan harapan agar sang anak disunat dengan menggunakan pisau “sembilu” pisau yang terbuat dari bambu diiringi gendang tunrung pakanjara.

Acara Assuna/Massuna adalah acara inti dimana semua sanak dan saudara berdo’a agar dalam proses sunat diberikan kemudahan dan sang anak segera diberikan penyembuhan.
Menurut berbagai sumber tradisi ini hanya dilakukan oleh orang yang berada karena biaya upacara ini cukup besar.

Kembali disaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun semata hanya untuk diketahui.

Salam Takzim Batavusqu

6 pemikiran pada “Tradisi khitan Masyarakat Sulsel (Bagian 3 habis)

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang Zipoer7…

    lama tidak bertandang dan bersapa mesra dengan Kang Zipoer. Didoakan sihat dan bahagia selalu bersama keluarga. Setiap tempat dan negeri mempunyai upacara khitannya tersendiri. tetapi di kalangan keluarga saya sudah tidak wujud lagi tradisi-tradisi khitan ini. Semuanya sudah moden dan hanya ke hospital sahaja bertemu dokter. Selesai.

    Ketika saya kecil dulu, acara berarak di kampung saya untuk acara khitan sangat meriah malah menakutkan anak-anak sehingga ada yang kabur saat mahu dibawa ke hadapan Tok Mudim (tukang khitan). Sakit barangkali ya…hehee

    Salam mesra Kang Zipoer. Semoga silaturahminya tetap terjalin baik.😀

    1. hehehe bunda Siti kabar baik tentunya ya
      kemajuan teknologi membuat hal hal sakral ikut bergesr ya bund. Semoga dengan dimajukan lagi tulisan seperti ini menggugah para orang tua kembali menjalankan ritual ini karena ini khasanah budaya yang tak boleh hilang bund.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s