Tradisi malam tanggal 15 Ramadhan

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Sebelumnya saya sampaikan permohonan maap yang tiada hingga kepada para pembaca batavusqu yang mana hampir setahun blog ini tidak memberikan bacaan yang hangat, ya bacaan yang bisa memberikan khasanah bagi batavusqu atau untuk sahabat dimanapun berada. Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankan saya kembali menyaji sebuah tradisi yang unik bagi saya yakni tradisi kupatan.

Sebut saja di daerah perkampungan Cinere dimana masyarakat kampung ini yang kental dengan budaya betawi bercampur sunda. Pada setiap malam ke 15 Ramadhan tidak akan meninggalkan sebuah tradisi unik untuk membuat ketupat. Pemahaman tentang ketupat sahabat dapat menoleh ke sini. Tradisi ini selalu dilaksanakan dengan semangat oleh para warga, kulit ketupatnya sengaja dibuat sendiri dan masaknyapun juga dilakukan sendiri. Sebagian warga ada yang memasak daging atau lauk peneman ketupat.

Ttradisi ini biasanya masyarakat menyebut qunutan atau dengan sebutan “kupatan”. Ketupat dibuat bersama opor ayam atau sayurkulit tangkil dan sambel kentang goreng. Semua hasil olahan akan dibawa ke mushola atau masjid untuk dinikmati bersama jamaah.

Masyarakat akan saling berbagi makanan ini pada saat “ngeriung” di masjid atau mushola pada hari ke-15 malam, sebagai tanda bersyukur telah mampu melewati setengah perjalanan di bulan ramadhan. Waktu ngeriung adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak karena mereka bisa saling berbagi makanan dan berbagi keceriaan bersama.

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk diketahui.

——————————————————————————————————————–

Salam Takzim Batavusqu

Iklan

10 pemikiran pada “Tradisi malam tanggal 15 Ramadhan

  1. Tadi pagi aku ke pasar, aku melihat banyak kulit ketupat dijual…heeem…kaget juga, aku tanya dooong…kok seperti mo lebaran? iya besok kan qunutan? oooh…aku enggak paham meskipun sudah hampir lima tahun tinggal di Jakarta #hihiii, baru kali ini lihat.

  2. Sebuah tradisi yang masih dijalankan, tentunya hal ini penerapan dari apa yang diajarkan oleh setiap agama dengan saling menghormati dan sebagai ucap syukur ya Kang. Semoga tradisi seperti ini kita dapat melihat lebih jauh makna yang tersirat dalam penyampaiannya, dan akan terus terpelihara tanpa harus terkikis dengan sosok keangkuhan yang terbungkus dalam bahasa agama yang akan mengikis nilai suatu budaya sebagai identitas bangsa.

    Salam wisata,

  3. Ping-balik: Tradisi malam Qunut 2 | Batavusqu

  4. Ping-balik: Tradisi Rantangan | Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s