Penyakit yang memisahkan kami

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Keceriaan itu tetap akan selalu aku kenang sepanjang hidupku ya keceriaan bersama keluarga lengkapku abah, emak, kakak dan adikku. Keceriaan saat sore menjelang maghrib, keceriaan saat mau tidur, keceriaan saat akan berangkat sekolah, dan keceriaan saat makan siang.

Abah seorang prajurit tantama berpangkat kopral beliau adalah sosok multi talenta, selain seorang prajurit dibarisan terdepan saat perang, beliau juga salah satu sosok atlit kedinasan, dan bukan hanya satu cabang olahraga saja yang beliau ikuti tetapi abah juga mempunyai keahlian tenis meja, voly bal, lari sprint dan bek kawakan di lapangan bola.

Selain piala-piala kebanggaan kami juga dapat tersisakan beberapa piagam penghargaan sebagai qori, sebagai orator islami, sebagai ulama agama islam dari abah. ya memang abah juga merupakan sosok ulama (ustadz) di lingkungan asrama zipor 7 tempat kediaman batavusqu hingga sekarang.

Setiap sore menjelang maghrib abah senantiasa membiasakan mengajari kami membaca al-qur’an sembari memberikan kisah kisah nabi dan kaum sufi sehingga kami paham akan perjuangan rosul dalam memperjuangkan agama islam. hampir setiap sore ya setiap sore setelah selesai mengajar anak-anak sebayaku saat itu.

Sosok abah adalah sosok patriot bagi kami, karena tanpa abah kami tak mampu hidup karena abah selalu memperhatikan sekecil apapun prilaku dan keperluan kami, tanpa abah mungkin aku tidak bisa menikmati bangku sekolah dan tanpa abah tak mungkin blog ini terbit ya karena abah lah aku berkemampuan untuk melakukan yang aku ingini.

Setelah pensiun dari tentara abah tidak hanya diam, abah melamar sebagai satpam di pabrik indocement ya pabrik pembuatan semen, dimana lingkungan kerja abah saat itu penuh dengan debu dan harus memakai masker sepanjang hari, jika tidak maka jangan harap akan bertahan lama kerja disana.

oh ya sahabat, abah juga mengajar ngaji kaum bapak lho di setiap malam jum’at dan juga mengajar ngaji kaum ibu di setiap minggu siang, sehingga wajar saja ketika abah harus bersesak napas diakhir hidupnya para penziarah tak tertampung dirumah dinas abah. Abah meninggal karena menderita asma ya asma lah penyakit yang memisahkan kami.

Abah engkau tetap seorang patriot bagi kami tetap seorang patriot bagi batavusqu, tulisan ini disertakan dalam Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami.

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun semata hanya untuk mengisi.

———————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

5 pemikiran pada “Penyakit yang memisahkan kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s