Budaya Adat pernikahan Banjar

Senin, 7 September 2009

Satu lagi pesona anak bangsa disajikan sebagai bentuk tata upacara nikah adat Banjar, tersaji agar bermanfaat khususnya untuk putra-putri Pulau Borneo yang tinggal di luar pulau dan umumnya masyarakat Indonesia. Dan semoga menjadikan khasanah Ilmu dasar ntuk menjaga negeri.

Pakaian Adat BanjarProvinsi Kalimantan Selatan terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan. Secara geografis keadaan alamnya terdiri dari dataran rendah, rawa-rawa, sungai-sungai baik besar maupun kecil serta dataran tinggi dan pegunungan dengan lembah dan ngarainya. Di bagian selatan dan timur dilingkungi oleh pantai dan laut.
Berdasarkan tempat tinggal dan asal etnisnya, suku Banjar terbagi atas tiga kelompok, yaitu :

  1. Banjar Kuala, di daerah Banjarmasin dan kabupaten Banjar. Mereka berasal dari etnik Ngaju.
  2. Banjar Batang Banyu, di aliran sungai Barito dan terus ke sungai Negara hingga ke sungai Tabalong di Kelua. Mereka berasal dari etnik Maanyan.
  3. Banjar Pahuluan, di sepanjang kaki Gunung Meratus dari Tanjung sampai ke Pelaihari. Mereka berasal dari etnik Dayak dan Bukit.

Suku Banjar mengenal Daur Hidup dengan upacara tradisional yang salah satunya adalah Upacara Perkawinan. Upacara ini merupakan salah satu bagian dari Daur Hidup yang harus dilewati.
Dahulu orang Banjar umumnya tidak mengenal istilah “berpacaran” sebelum memasuki jenjang perkawinan seperti yang kita ketahui sekarang. Namun, saat itu hanya dikenal istilah “batunangan”. Yaitu, ikatan kesepakatan dari kedua orang tua masing-masing untuk mencalonkan kedua anak mereka kelak sebagai suami isteri. Proses “batunangan” ini dilakukan sejak masih kecil, namun umumnya dilakukan setelah akil balig. Hal ini hanya diketahui oleh kedua orang tua atau kerabat terdekat saja.

Pelaksanaan upacara perkawinan memakan waktu dan proses yang lama. Hal ini dikarenakan harus melalui berbagai prosesi, antara lain :

1. Basasuluh.
Seorang laki-laki yang akan dikawinkan biasanya tidak langsung dikawinkan, tetapi dicarikan calon gadis yang sesuai dengan sang anak maupun pihak keluarga. Hal ini dilakukan tentu sudah ada pertimbangan-pertimbangan, atau yang sering dikatakan orang dinilai “bibit-bebet-bobot”nya terlebih dahulu. Setelah ditemukan calon yang tepat segera dicari tahu apakah gadis tersebut sudah ada yang menyunting atau belum. Kegiatan ini dalam istilah bahasa Banjar disebut dengan BASASULUH.

2. Batatakun atau Melamar.
Setelah diyakini bahwa tidak ada yang meminang gadis yang telah dipilih maka dikirimlah utusan dari pihak lelaki untuk melamar, utusan ini harus pandai bersilat lidah sehingga lamaran yang diajukan dapat diterima oleh pihak si gadis. Jika lamaran tersebut diterima maka kedua pihak kemudian berembuk tentang hari pertemuan selanjutnya yaitu Bapapayuan atau Bapatut Jujuran.

3. Bapapayuan atau Bapatut Jujuran.
Kegiatan selanjutnya setelah melamar adalah membicarakan tentang masalah kawin. Pihak lelaki kembali mengirimkan utusan, tugas utusan ini adalah berusaha agar masalah kawin yang diminta keluarga si gadis tidak melebihi kesanggupan pihak lelaki.
Untuk dapat menghadapi utusan dari pihak keluarga lelaki, terutama dalam hal bersilat lidah, maka pihak keluarga sang gadis itu pun meminta kepada keluarga atau tetangga dan kenalan lainnya, yang juga memang ahli dalam bertutur kata dan bersilat lidah.
Jika sudah tercapai kesepakatan tentang masalah kawin tersebut. Maka kemudian ditentukan pula pertemuan selanjutnya yaitu Maatar Jujuran atau Maatar Patalian.

4. Maatar Jujuran atau Maatar Patalian.
Merupakan kegiatan mengantar masalah kawin kepada pihak si gadis yang maksudnya sebagai tanda pengikat. Juga sebagai pertanda bahwa perkawinan akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu, baik dari keluarga maupun tetangga. Apabila acara Maatar Jujuran ini telah selesai maka kemudian dibicarakan lagi tentang hari pernikahan dan perkawinan.

5. Bakakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan .
Sebelum hari pernikahan atau perkawinan, mempelai wanita mengadakan persiapan, antara lain:
a. Bapingit dan Bakasai.
Bagi calon mempelai wanita yang akan memasuki ambang pernikahan dan perkawinan, dia tidak bisa lagi bebas seperti biasanya, hal ini dimaksudkan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan (Bapingit).
Dalam keadaan Bapingit ini biasanya digunakan untuk merawat diri yang disebut dengan Bakasai dengan tujuan untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.

b. Batimung.
Hal yang biasanya sangat mengganggu pada hari pernikahan adalah banyaknya keringat yang keluar. Hal ini tentunya sangat mengganggu khususnya pengantin wanita, keringat akan merusak bedak dan dapat membasahi pakaian pengantin. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka ditempuh cara yang disebut Batimung. Setelah Batimung badan calon pengantin menjadi harum karena mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimung tadi.

c. Badudus atau Bapapai.
Mandi Badudus atau bapapai adalah uapacara yang dilaksanakan sebagai proses peralihan antar masa remaja dengan masa dewasa dan juga merupakan sebagai penghalat atau penangkal dari perbuatan-perbuatan jahat. Upacara ini dilakukan pada waktu sore atau malam hari. Upacara ini dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum upacara perkawinan.

d. Perkawinan (Pelaksanaan Perkawinan)
Upacara ini merupakan penobatan calon pengantin untuk memasuki gerbang perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan disesuaikan dengan bulan Arab atau bulan Hijriah yang baik. Biasanya pelaksanaan upacara perkawinan tidak melewati bulan purnama.

Kegiatan pada upacara perkawinan ini antara lain:

1). Badua Salamat Pengantin.
Hal ini ditujukan untuk keselamatan pengantin dan seluruh keluarga yang melaksanakan upacara perkawinan itu. Dalam hal ini pembacaan doa-doa dipimpin oleh Penghulu atau Ulama terkemuka di kampung tersebut. Selesai prosesi tersebut para undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang telah disediakan. Hal ini berlangsung hingga acara Maarak Pengantin.

2). Bahias atau Merias Pengantin.
Sekitar jam 10 pagi, tukang rias sudah datang ke rumah mempelai wanita untuk merias. Kegiatan ini meliputi tata rias muka, rambut dan pakian, serta kelengkapan lainnya seperti Palimbayan dan lainnya. Bagi pengantin pria, bahias ini dilakukan setelah sholat Zuhur.

3). Maarak Pengantin.
Apabila pihak pengantin sudah siap berpakaian, maka segera dikirim utusan kepada pihak pria bahwa mempelai wanita sudah menunggu kedatangan mempelai pria. Maka kemudian diadakanlah upacara Maarak Pengantin. Pada waktu maarak pengantin biasanya diiringi dengan kesenian Sinoman Hadrah atau Kuda Gepang. Pihak wanita juga mengadakan hal yang sama untuk menyambut mempelai pria juga untuk menghibur para undangan.

maara2k

4). Batatai atau Basanding.
Kedatangan pengantin pria disambut dengan Salawat Nabi dan ketika Salawat itu dikumandangkan pengantin wanita keluar dari dinding kurung untuk menyambut pengantin pria. Di muka pintu, pengantin pria disambut oleh pengantin wanita, untuk beberapa saat mereka bersanding di muka pintu, kemudian mereka di bawa ke Balai Warti untuk bersanding secara resmi.

batatai
Apabila telah cukup waktu bersanding, kedua mempelai diturunkan dari Balai Warti untuk kemudian dinaikkan keusungan atau dinamakan Usung Jinggung, yang diiringi kesenian Kuda Gepang. Setelah di Usung Jinggung kedua mempelai disandingkan di petataian pengantin yang disebut Geta Kencana. Kemudian dilanjutkan dengan sujud kepada orang tua pengantin wanita dan para hadirin serta memakan nasi pendapatan (Badadapatan). Setelah itu kedua pengantin berganti pakaian untuk istirahat.

e. Bajajagaan Pengantin
Pada malam hari pertama sampai ketiga sejak hari perkawinan, biasanya diadakan acara Bajajagaan atau menjagai pengantin, yang isinya dengan pertunjukan kesenian, seperti Bahadrah atau Barudat (Rudat Hadrah), Bawayang Kulit (Wayang Kulit), Bawayang Gong (Wayang Orang), Mamanda dan sebagainya.

f. Sujud
Tiga hari sesudah upacara perkawinan, kedua mempelai kemuadian di bawa ke rumah orang tua pengantin pria untuk sujud kepada orang tua pengantin pria. Malam harinya juga diadakan acara menjagai pengantin dengan maksud untuk menghibur kedua mempelai yang sedang berkasih mesra itu.

Keesokan harinya mereka dibawa lagi ke rumah mempelai wanita untuk selanjutnya tinggal di tempat mempelai wanita bersama orang tua mempelai wanita untuk mengatur kehidupan berumah tangga. Apabila telah mampu untuk mencari nafkah sendiri barulah berpisah dalam artian berpisah dalam hal makan saja, namun tetap tinggal bersama orang tua mempelai wanita.

Begitulah proses upacara perkawinan yang dilakukan oleh suku Banjar pada masa lalu. Namun pada era globalsasi saat ini tata cara perkawinan tersebut sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat khususnya masyarakat Banjar. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman, yang otomatis dianggap tidak sesuai lagi dengan budaya-budaya leluhur seperti contohnya upacara perkawinan tersebut. Dan juga dianggap terlalu bertele-tele. Hal ini tentu sangat menyedihkan bagi kita, budaya leluhur yang diajarkan secara turun temurun malah dengan mudahnya kita tinggalkan tanpa ada upaya untuk melestarikannya. Namun, masih ada juga daerah yang tetap melaksanakan prosesi tersebut. Seperti di daerah Margasari Kab. Tapin, di sana masih dilaksanakan prosesi tersebut, namun tidak semuanya dilaksanakan. Maksudnya ada bagian tertentu yang tidak dilaksanakan lagi karena dianggap sudah tidak sesuai.
Pada masa sekarang dalam hal mencari calon isteri tidak lagi pengaruh orang tua berperan penting, sekarang anak muda dalam hal mencari jodoh ditempuh dengan cara pacaran seperti yang telah dikemukakan di bagian awal tadi. Di masyarakat perkotaan sudah jarang yang memakai tata cara perkawinan seperti ini, namun tentu ada saja orang yang tetap melaksanakannya.
Untuk itu peran pemerintah dan masyarakat sangat diharapkan untuk melestarikan kebudayaan yang kita miliki ini. Negara kita terkenal karena kebudayaannya yang unik untuk itu kita sebagai generasi penerus haruslah melestarikan kebudayaan yang kita miliki.

Sumber Asli

About these ads

Tentang Batavusqu

in 1968 when a figure sprang Warning Isro Mi'raj this man.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

31 Balasan ke Budaya Adat pernikahan Banjar

  1. Babesajabu berkata:

    Wah, ternyata adat pernikahan jaman dulu sangat rumit ya??? Tapi inilah hebatnya kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam, gak aneh kalau banyak negara luar yang kagum dengan Indonesia.

  2. Babesajabu berkata:

    Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda melestarikan kebudayaan masing2. Karena perubahan jaman yang begitu pesat, seringkali kebudayaan ini terkikis sedikit demi sedikit. Inilah adalah tugas kita generasi muda untuk melestarikannya kembali.

  3. zipoer7 berkata:

    Rumit tapi hebat, Kunci Utama Cinta Negeri, Generasi penerus mari kita lestarikan budaya untuk anak negeri. Terima kasih om sudah berbagi

  4. isnuansa berkata:

    Mas Isro asalnya dari Banjar ato asli Jagakarsa ya? Hihihi, mengulas adat Banjar secara detail begitu. Kalo saya menulis tentang Pandeglang karena ikutan kontes SEO aja.

  5. dedenia72 berkata:

    wah lagi rajin posting tentang pernikahan ya pak..
    atau mau nikah (lagi?)…hehehehe
    yang pasti sih memang rumit kalo cuma dibaca..kalo dipraktekkan pasti lebih rumit lagi…hehehehe
    udah ah, segini aja dulu..
    salam rimba raya lestari…

  6. Batavusqu berkata:

    Kunci utamanya niat agar adat tidak tertinggal

  7. intan ika jayanti berkata:

    bagaimana tentang riasan dan nama aksesoris yang digunakan pada tata rias pengantin adat kalimantan selatan, terima kasih

  8. zipoer7 berkata:

    Terima kasih kirim kemana nih

  9. yieni firnawati ma'ruf berkata:

    saya asli galuh banjar lo mas,…stahu saya smpe skarang untuk wilayah banua enam masih banyak kok yg pake adat pernikahan banjar, hehehe wlu ribet…………btw,nanti untuk wedding sy….adat banjar jg kok yg akan di pakai…………

  10. BeLajaR berkata:

    meninggalkan jejak di postingan ttg borneo. :D
    rajin bgt posting ttg pernikahan secara adat.

    mas, makasih banyak ya…
    sudah sering mampir di tempat saya.
    jgn bosen kirim komentar untuk saya ya. :D

  11. Ping balik: Pernikahan Adat Bulungan Kaltim « Batavusqu

  12. Iwan,SP berkata:

    Terimakasih kawan saya banyak belajar dari tulisan sampeyan ini
    ulun orang banjar jua hehe
    banyak sekali manfaatnya
    terimakasih…………

  13. helda yanti berkata:

    mudahan adat urang bahari ni kada luntur sampai kaina..

  14. Hadi Yuliansyah berkata:

    Slm kenal. Saya asli Jawa, tapi skrg tinggal di Samarinda. Puisi atau pantun apa yg biasa digunakan pada pernikahan adat Banjar. Terima ksh sebelumnya….

  15. Abd Sanad Omar berkata:

    Salam kenal. Saya banjar asli Malaysia mau tanya, bilakah masa ijab dan kabul berlangsung, maksudnya upacara nikah.

  16. Syn Susilawati berkata:

    ass wrwb
    Info anda saya gunakan sebagai bahan untuk tugas mata kuliah pluralisme nasional, makasich ya, salam….

  17. jerry berkata:

    nah,pas bnar ulun ni dpt bhan nangini,sgan bahn kuliah ulun di kotabaru…
    thu ae kl bu2hn pian sabarataan ???

    wsllm

  18. Ping balik: Budaya Adat pernikahan Banjar « greadder

  19. bebeb assegaf berkata:

    Mantap Paman,, Insyaallah ulun bekawinan nang kaya ini kaina,, amiin ya Rob :)

  20. ful's vetjam berkata:

    ini nang q cari2 banar pas banar dah….gasan bhan diskusi tentang adat2,
    1.adat banjar pernikahan
    2. adat bugis mappandre taswi ( pesta laut pagatan )
    makasih sanak lah…tingal lun pelajari z lg bahan2 pian2 nih

  21. fatimah berkata:

    Siapa lagi yang menjaga warisan budaya , selain kita…mulai dari acara sebelum bekawinan dan urutannya….mulai besesuluh, betakun, melamar, meikat petalian atau beantar jujuran, ulun ke tuju banar meumpati acara2 nya….

  22. iqo ling berkata:

    haduh..nikah tinggal akad saja beres

  23. angga berkata:

    orang banjar larang jujuran nya? hiks hiks

  24. ar_rahmi berkata:

    yg bikin mahal jujurannya.. :p

  25. riko berkata:

    salam bang zipoer7, minta tolong info faktor penunjang dan penghambat dlam pelaksanaan kawinan adat banjar di lingkungan adat lain bang, wassallam.

  26. ohandrian berkata:

    adat pernikahan banjar itu luar biasa,pertahankan!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s