Upacara adat Molonthalo2

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Masih dari kelanjutan upacara adat Molonthalo, setelah semua perlengkapan adat dan orang orang yang dimaksud telah hadir, maka sang ibu yang hamil dibaringkan di atas sebuah tikar putih dengan kepala menghadap ke arah timur dan kaki ke barat. Pada bagian kepala diletakkan sebuah bantal yang selalu dipegangi oleh seorang ibu. Sedangkan bagian kaki juga dijaga oleh seorang ibu lainnya sambil memegang lututnya agar posisinya terlipat ke atas.

Usai dibaringkan, syara’ atau imam kampung atau hatibi menanyakan pada ibu yang memegang talante bula (tikar terbungkus kain yang digunakan sebagai tirai penutup pintu kamar), dengan perkataan “Ma mongola hula?” yang artinya “Sudah berapa bulan?”. Pertanyaan ini segera diteruskan pada hulango yang segera menjawabnya dengan kalimat “Oyinta oluwo”. Jawaban hulango diteruskan lagi oleh ibu penjaga tirai pada syara’ dengan suara yang agak keras. Hal ini berlangsung sebanyak tiga kali.

Setelah acara tanya-jawab selesai, sang suami segera masuk ke dalam kamar isterinya lalu melangkahi perutnya sebanyak tiga kali. Selesai melangkahi perut isterinya, sang suami lalu menghunus keris untuk memotong anyaman silar yang telah disediakan. Potongan anyaman silar tersebut lalu dibawanya keluar mengelilingi rumah sebanyak satu kali, kemudian dibuang agak jauh dari rumah. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar sang bayi lahir dengan selamat dan setelah dewasa akan memegang teguh adat, syara’, dan baala sebagai pedoman hidupnya dalam bermasyarakat.

Setelah itu sang suami kembali masuk ke rumah dan duduk berhadapan dengan isterinya untuk acara saling menyuapi dengan seperangkat makanan dalam baki yang terdiri dari nasi bilinthi dan ayam goreng. Sebelum acara saling menyuapi berlangsung yang juga sebagai lambang kasih sayang serta adanya hak dan kewajiban dari siami-isteri, terlebih dahulu sang suami akan mengeluarkan telur yang telah dimasukkan dalam perut ayam goreng. Telur yang keluar dari tubuh ayam goreng tersebut bermakna agar sang isteri diberi kemudahan ketika melahirkan bayinya.

Selesai prosesi saling menyuapi, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan shalawat yang dipimpin oleh hatibi. Kemudian, sang suami dan isterinya akan dimandikan oleh hulango dengan air yang telah dicampur dengan berbagai macam bunga dan ramuan.

Acara lalu diakhiri dengan makan bersama diantara peserta upacara dengan hidangan berupa kue tradisional khas Gorontalo. Dan sebelum para peserta upacara pulang, sang suami memberikan pala’u (sedekah sesuai keikhlasan hati) kepada hulango, hatibi, tiga orang ibu (penjaga kepala, kaki dan tirai), serta dua orang anak yang ikut menjaga perempuan yang sedang diupacarakan. Dengan berakhirnya tahap pemberian pala’u ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara molonthalo.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara molonthalo. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Molonthalo merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh hatibi atau ulama setempat, pada acara kenduri yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan dalam upacara molonthalo. Tujuannya adalah agar sang bayi beserta ibunya mendapatkan perlindungan dari Tuhan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sumber:
Keesing, Roger. 1992. Antropologi Budaya Edisi ke dua. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. 1985. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
http://hulondhalo.com/2009/08/upacara-adat-molonthalo/
http://artnculture.ilmci.com/tag/molonthalo
http://mycityblogging.com/gorontalo/2008/08/29/upacara-adat-molonthalo/

Seperti biasa disaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk diketahui

Baca juga upacara adat yang telah dipublish

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

Upacara adat molonthalo2|Upacara adat molonthalo1|Angka dan huruf merupakan perpaduan kode|Upacara adat tiwah|Profesi pemerhati lingkunan hidup|Upacara Adat Bau Nyale2|Upacara Adat Bau Nyale1|Upacara Adat Pasola2|Upacara Adat Pasola Sumba1|Warung Blogger|

Iklan

33 pemikiran pada “Upacara adat Molonthalo2

  1. Wah semoga kelestarian budaya yang ada tetap terjaga yapak…?
    sebab itu merupakan aset terbesar dalam bangsa ini…

    Tadi ada yang mengeluarkan telur yang telah di taruh didalam ayam yang sudah matang…
    penuh filosofi…

  2. Begitu banyak acara adat berkaitan dgn 7 bulanan ini yah…
    Walau mnrt agama ada bbrp org yg sangat tdk menganjurkan..
    Tapi budaya spt ini meemang salah satu kekayaan Indonesia ya..
    Wallahu’alam

  3. Sungguh nilai budaya yang begitu mengagumkan. Saya sendiri baru tahu tentang upacara adat Molonthalo. Makasih ya Bang, salam gowes, hehehe…

  4. Ping-balik: Upacara adat Mappassili « Batavusqu

  5. Ping-balik: Upacara adat Mandi Tian Mandaring « Batavusqu

  6. Ping-balik: Upacara adat Mandi Bunting « Batavusqu

  7. Ping-balik: Upacara adat 7 bulanan di Aceh « Batavusqu

  8. Ping-balik: Model Onthelis tempo doeloe « Batavusqu

  9. Ping-balik: Award dari Kang Indra Kusuma Sejati « Batavusqu

  10. Ping-balik: Upacara Adat Tingkeban « Batavusqu

  11. Ping-balik: Upacara adat Mitoni « Batavusqu

  12. Ping-balik: Ngontel neng petogogan « Batavusqu

  13. Ping-balik: Upacara adat khitanan masyarakat Betawi « Batavusqu

  14. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat sunda « Batavusqu

  15. Ping-balik: Peringatan HUT Kota Jakarta « Batavusqu

  16. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Tengger « Batavusqu

  17. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Demak « Batavusqu

  18. Ping-balik: Tradisi khitanan bagi Masyarakat Bajo « Batavusqu

  19. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Bugis « Batavusqu

  20. Ping-balik: Tradisi Khitanan masyarakat Aceh1 « Batavusqu

  21. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Aceh2 « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s