Upacara adat Mitoni

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya

Ketika seorang wanita hamil untuk pertama kalinya, pada bulan ketujuh kehamilannya diadakan ritual Mitoni. Mitoni berasal dari kata pitu artinya tujuh. Ritual mitoni  diadakan dengan maksud untuk memohon berkah Gusti Allah, untuk keselamatan calon orang tua dan anaknya. Bayi lahir pada masanya dengan sehat, selamat, demikian pula ibunya melahirkan dengan lancar, sehat dan selamat. Selanjutnya diharapkan seluruh keluarga hidup bahagia.

Hal-hal penting pada upacara mitoni adalah :

  1. Siraman ( pemandian calon ibu)
  2. Pendandanan calon ibu
  3. Angreman

Tempat, berbagai barang/ubarampe termasuk sesaji, hendaknya sudah tersedia lengkap

Upacara Siraman

Siraman

Biasanya pelaksanaan siraman diadakan di kamar mandi atau di tempat khusus yang dibuat untuk siraman, di halaman belakang atau samping rumah.

Siraman dari kata siram artinya mandi. Pada saat mitoni adalah pemandian untuk sesuci lahir batin bagi calon ibu/orang tua beserta bayi dalam kandungan.

Yang baku, ditempat siraman ada bak/tempat air yang telah diisi air yang berasal dari tujuh sumber air yang dicampur dengan bunga sritaman, yang terdiri dari mawar,melati, kenanga dan kantil.

Dipagi hari atau sore hari yang cerah, ada terdengar alunan suara gamelan yang semarak, mengiringi pelaksaan siraman.

Di depan tempat siraman yang disusun apik, duduk calon kakek, calon nenek dan ibu-ibu yang akan ikut memandikan. Mereka semua berpakaian tradisional Jawa, bagus, rapi. Tentu saja disaksikan oleh para  undangan yang hadir untuk menyaksikan dan memberi restu kepada calon ibu.

Calon ibu dengan berpakaian kain putih yang praktis, tanpa mengenakan asesoris seperti gelang, kalung, subang dsb, datang ketempat siraman dengan diiringi oleh beberapa ibu.

Dia langsung didudukkan di atas sebuah kursi yang dialasi dan dihias dengan sebuah tikar tua, maksudnya orang wajib bekerja sesuai kemampuannya dan dedauanan seperti : opok-opok, alang-alang, oro-oro, dadap srep, awar-awar yang melambangkan keselamatan dan daun kluwih sebagai perlambang kehidupan yang makmur.

Orang pertama yang mendapat kehormatan untuk memandikan adalah calon kakek, kemudian calon nenek dan disusul oleh beberapa ibu yang sudah punya cucu.Sesuai kebiasaan, jumlah yang memandikan adalah tujuh orang. Diambil perlambang positifnya, yaitu tujuh, bahasa Jawanya pitu, supaya memberi pitulungan, pertolongan.

Sesudah selesai dimandikan dengan diguyur air suci, terakhir dikucuri air suci dari sebuah kendi sampai airnya habis. Kendi yang kosong dibanting ketanah. Dilihat bagaimana pecahnya. Kalau paruh atau corot kendi tidak pecah, hadirin ramai-ramai berteriak : Lanang! Artinya bayi yang akan lahir laki-laki. Apabila pecah, yang akan lahir wadon, perempuan

Perlu diketahui bahwa suasana selama pelaksanaan siraman adalah sakral tetapi riang

Pada masa kini, upacara siraman dipandu oleh seorang ibu yang profesional dalam bidangnya, disertai seorang M.C. sehingga upacara berjalan runut, lancar dan bagus..

Peluncuran tropong

Ada kalanya, sesudah selesai pecah kendi, sebuah tropong, alat tenun dari kayu diluncurkan kedalam  kain tekstil yang mempunyai tujuh warna. Ini perlambang kelahiran bayi dengan lancar dan selamat.

Siraman gaya Mataraman

Siraman gaya Mataraman atau Yogyakarta kuno, sekarang boleh dibilang tidak dilakukan lagi. Pada siraman tersebut yang dimandikan tidak hanya calon ibu, tetapi jugas calon ayah, secara berbarengan.

Pendandanan calon ibu

Pendandanan

Disebuah ruangan yang telah disiapkan untuk upacara pendandanan, beberapa ibu dengan disaksikan hadirin, mendandani calon ibu dengan beberapa motif kain batik dan lurik.

Ada 6/enam motif kain batik, antara lain motif kesatrian, melambangkan sikap satria; wahyu tumurun, yaitu wahyu yang menurunkan kehidupan mulia, sidomukti, maksudnya hidup makmur, sidoluhur-berbudi luhur dsb.

Satu per satu kain batik itu dikenakan, tetapi tidak ada yang sreg, sesuai. Lalu yang ketujuh dikenakan kain lurik bermotif lasem, dengan semangat para hadirin berseru : Ya, ini cocok!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lurik adalah bahan yang sederhana tetapi kuat, motif lasem mewujudkan perajutan kasih yang bahagia, tahan lama. Begitulah perlambang positif dari upacara pendandanan.

Lurik yang dikenakan calon ibu tersebut diikat dengan tali yang terdiri dari benang dan anyaman daun kelapa. Tali itu dipotong oleh calon ayah dengan menggunakan sebilah keris yang ujungnya ditutup kunyit.Ini perlambang bahwa semua kesulitan yang dihadapi keluarga ,akan diatasi oleh sang ayah

Sesudah memotong tali, sang ayah mengambil tiga langkah kebelakang, membalikkan badan dan lari keluar. Ini melambangkan kelahiran yang lancar dan selamat, bagi bayi dan ibu.


Brojolan

Brojolan

Dua buah kelapa gading diluncurkan kedalam kain lurik yang dipakai calon ibu. Kedua kelapa tersebut jatuh diatas tumpukan kain batik. Ini juga menggambarkan kelahiran yang lancar dan selamat.

Kedua buah kelapa gading itu diukir dengan gambar Dewi Ratih dan Dewa Kamajaya, sepasang dewa dewi yang cantik, bagus rupanya dan baik hatinya.Artinya tokoh, figur yang ayu, baik, luar dalam, lahir batin. Ini tentu dalam menjalani kehidupan kedua orang tua juga bersikap demikian , demikian pula anak yang dilahirkan, menjalani kehidupan yang baik,  berbudi pekerti luhur dan mapan lahir batin.

Calon ayah mengambil salah satu kelapa tersebut dan memecahnya dengan menggunakan golok.  Kalau kelapa itu pecah jadi dua, hadirin berseru : Wadon, perempuan. Kalau kelapa itu airnya menyembur keluar, hadirin berteriak riang : Lanang, lelaki.

Anak yang dilahirkan putra atau putri, sama saja, tetap akan  diasuh, dibesarkan oleh orang tuanya dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Kelapa yang satunya, yang masih utuh, diambil, lalu dengan diemban oleh calon nenek , ditaruh ditempat tidur calon orang tua.


Angreman

agreman

Angreman dari kata angrem artinya mengerami telur. Calon orang tua duduk diatas tumpukan kain yang tadi dipakai, seolah mengerami telur, menunggu waktu sampai bayinya lahir dengan sehat selamat. Mereka mengambil beberapa macam makanan dari sesaji  dan ditaruh disebuah cobek. Mereka makan bersama sampai habis. Cobek itu menggambarkan ari-ari bayi.

Perlu diperhatikan bahwa untuk ritual angreman gaya Yogyakarta, sesajinya tidak ada yang berupa daging binatang yang dipotong. Ini memperkuat doa kedua calon orang tua supaya bayi mereka lahir dengan selamat. Kelapa dan tumpukan kain-kain itu  berada diatas tempat tidur kedua calon orang tua. Ini latihan kesabaran bagi keduanya sewaktu menjaga dan merawat bayi.

Dipagi harinya , calon ayah memecah kelapa tersebut.

Ini biasanya yang terjadi. Tetapi kalau dipagi hari ada seorang wanita hamil meminta kelapa tersebut, menurut adat, kelapa itu harus diberikan. Lalu wanita dan suaminya yang akan memecah kelapa itu. Ini melambangkan bahwa dalam menjalani kehidupan, orang tidak boleh egois, mementingkan diri sendiri, saling menolong dan welas asih, haruslah diutamakan.

Sumber asli dari sini
Seperti biasa disaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk diketahui

Baca juga upacara adat yang telah dipublish

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

Upacara adat mitoni|Upacara adat tingkeban|Award dari kang Indra|Model busana onthelis|Upacara adat peusijuek|Upacara adat mandi Bunting|Upacara adat Mandi Tian Mandaring|Upacara adat Mappassili|Upacara adat molonthalo2|Upacara adat molonthalo1| angka dan huruf merupakan perpaduan kode |Upacara adat tiwah|Profesi pemerhati lingkunan hidup|Upacara Adat Bau Nyale2|Upacara Adat Bau Nyale1|Upacara Adat Pasola2|Upacara Adat Pasola Sumba1|Warung Blogger|

Iklan

23 pemikiran pada “Upacara adat Mitoni

  1. Banyak pembelajaran yang tersirat dalam segala bentuk upacara adat untuk kehidupan kita kesehariannya, agar kita dapat menjadi manusia yang selalu menjaga budipekertiluhur ya Kang !

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawanah’s Blog

  2. Kalau di madura dikenal dengan Pelet Bettheng kang
    sama dimandikan dengan air kembang juga, katanya sih dingin airnya meskipun dimandikan disiang hari

    salam dari pamekasan madura

  3. Upacara yang sudah jarang saya lihat sejak tinggal di jakarta, karena selain melibatkan banyak orang, kehidupan di Jakarta yang serba cepat membuat orang berpikir praktis.

  4. Tapi semoga tradisi2 semacam ini jangan malah dijadikan sebagai sebuah ritual ‘wajib’ ya kang.. Malah membebani, apalagi utk sodara2 kita yg secara finansial kurang mampu..

    Salam hangat,

  5. nah kalo mitoni itu aku tau pak, tapi skrg udah jrg di tempatku. biasanya juga tak sedetail itu. tp sebenernya itu smua tak ada dalam islam

  6. Ping-balik: Ngontel neng petogogan « Batavusqu

  7. Ping-balik: Upacara adat khitanan masyarakat Betawi « Batavusqu

  8. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat sunda « Batavusqu

  9. Ping-balik: Peringatan HUT Kota Jakarta « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Tengger « Batavusqu

  11. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Demak « Batavusqu

  12. Ping-balik: Tradisi khitanan bagi Masyarakat Bajo « Batavusqu

  13. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Bugis « Batavusqu

  14. Ping-balik: Tradisi Khitanan masyarakat Aceh1 « Batavusqu

  15. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Aceh2 « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s