Aruh Baharin 2 (habis)

Selasa, 9 Pebruari 2010

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya

masak lemang

Olahan tradisi Aruh Baharin sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME dalam hal mensyukuri panen raya di kampung Kapul, hal ini menjadi kebanggan tersendiri bagi kita selaku bangsa Indonesia dan khususnya masyarakat di pulau Borneo. Untuk menyimak kelanjutan dari tradisi adat Aruh Baharin dari ide sepupu saya yang tinggal di Pelaihari mari persiapkan ingatan anda tentang Aruh Baharin 1.

Kembali tersaji hanya untuk dinikmati dan diketahui bukan tersaji untuk dihina ataupun dicaci. andai tersaji hampir mirip jangan tergores hati karena dicuplik dari melayu onlen

Upacara adat yang digelar selama tujuh hari tujuh malam ini terdiri dari tiga tahapan. Tahapan pertama adalah tahapan persiapan. Pada tahapan ini, kaum perempuan berbagi tugas dengan kaum laki-laki untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kelengkapan upacara. Kaum perempuan bertugas membersihkan dan membasuh beras, membuat ketupat, memasak lemang, dan memasak sayur untuk keperluan upacara. Selama proses ini, kaum perempuan diwajibkan mengenakan tapih bahalai, yakni batik khas untuk perempuan dari daerah tersebut. Sedangkan kaum laki-laki mempersiapkan tempat pemujaan dan menghiasnya, mencari kayu bakar, dan memasak nasi. Selama acara berlangsung, kaum laki-laki diharuskan mengenakan sentana parang dan mandau yang diselipkan di pinggang.

Tahapan kedua adalah pemanggilan arwah leluhur agar mereka ikut menghadiri dan merestui upacara. Tahapan yang dipimpin oleh beberapa orang balian (tokoh spritual masyarakat Dayak) ini dilaksanakan pada malam ketiga hingga malam keenam. Para balian menari (batandik) mengelilingi tempat pemujaan sembari diiringi dengan bunyi-bunyian dari gendang dan gong. Untuk memanggil arwah para leluhur, para balian tersebut akan menggelar beberapa ritual. Pertama, ritual Balai Tumarang. Ritual pembuka ini ditujukan untuk memanggil sejumlah arwah yang pernah memiliki kekuasaan hingga ke daerah tersebut, termasuk arwah para raja dari Pulau Jawa. Kedua, ritual Sampan Dulang atau ritual Kelong. Ritual ini bertujuan memanggil arwah leluhur orang Dayak, yakni Balian Jaya atau yang juga populer dengan nama Nini Uri. Ketiga, ritual Hyang Lembang. Yakni memanggil arwah raja-raja dari Kerajaan Banjar pada masa lampau. Keempat, ritual Dewata. Ritual ini berisi kisah tentang Datu Mangku Raksa Jaya yang berhasil menembus alam dewa dengan cara bertapa. Kelima, ritual Hyang Dusun. Yakni mengisahkan beberapa raja Dayak yang mampu memimpin sembilan benua atau sembilan pulau.

Tahapan ketiga merupakan puncak upacara adat Aruh Baharin. Pada hari terakhir ini ditampilkan berbagai atraksi kesenian khas masyarakat Dayak. Yang ditunggu-tunggu para pengunjung adalah proses penyembelihan hewan (hadangan) berupa beberapa ekor kerbau, kambing, dan ayam yang dipimpin oleh para balian. Uniknya, warga saling memperebutkan darah hewan-hewan tersebut dan kemudian mengoleskannya ke tubuh masing-masing. Mereka meyakini, darah hewan tersebut dapat memberikan keselamatan. Sebagian dari daging hewan tersebut dimasak untuk dimakan bersama-sama dan sebagiannya lagi dimasukkan ke dalam miniatur perahu naga, rumah adat, dan tempat sesajian (ancak) yang digunakan untuk sesaji. Sebelum dilarungkan ke Sungai Balangan, sesaji tersebut terlebih dahulu diludahi oleh semua anggota kelompok masyarakat adat yang bertindak sebagai penyelenggara upacara dan kemudian diberkati (mamangan) oleh para balian. Ini merupakan simbol untuk membuang segala yang buruk dan supaya mereka terhindar dari berbagai malapetaka.

Lokasi
Upacara Aruh Baharin dihelat di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.

Dari Kota Banjarmasin, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, Desa Kapul berjarak sekitar 250 kilometer. Bagi wisatawan yang berada di Kota Banjarmasin, dapat menuju Kota Paringin, Ibu Kota Kabupaten Balangan, dengan naik bus atau travel. Dari Kota Paringin, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan naik bus menuju Desa Kapul, lokasi upacara adat Aruh Baharin digelar.

Sumber Foto http://sahrudin.wordpress.com

—————————————————————————————————————————————-

Salam Takzim Batavusqu

|warisan Telukabessy|1 Suro di Cirebon||1 Suro di Tuban|Kado|Gunung Kemukus|Rambu Solo|Hari Ibu|Ritual Ngaben|Ritual Gimbal|Natal|Natal Tante Alexa|Zipoer7 VS Batavusqu|Tradisi Bayi Turun Tanah 1|Tradisi Bayi Turun Tanah 2|Tradisi Bayi Turun Tanah 3|Tradisi Bayi Turun Tanah 4||Tradisi Bayi Turun Tanah 5|Ada kutu di WordPress|Kutu Bikin Gatel|9 Hari Pertama|Pengantar Puasa Senin Kamis|Ritual Puasa Senin Kamis 1|Ritual Puasa Senin Kamis 2|Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis)|KutuBacaBuku Di Batavusqu|Informasi Senjata Gratisss|Golok bukan Go! Blog|Kujang; Ajimat Raja Pasundan|Artikel Terunik Pertama Di Leysbook|Rencong Milik Aceh|Kode Etik Blogger|Celurit di mata Carok|Hadiah Terunik akhirnya Terbit|Ceria bersama si bungsu|Gerbang Baru Mulai Terbuka|Kemeriahan Humberqu|Berburu dengan Sumpit|Humberqu jilid 1|3 hari yang tertinggal|Jambore bersama Bhirawa|Risalah Untuk Rusma|Humberqu Jilid 2|Ayoo olah raga|Aruh Baharin 1|

Iklan

37 pemikiran pada “Aruh Baharin 2 (habis)

    1. Hehehe, bang Iwan selalu hadir memberika semangat yang baik untuk saya, semoga saya juga bisa berbuat seperti bang Iwan dalam BW di setiap rumah sahabat
      Makasih bang

  1. Pelestarian Budaya seperti ini terkadang diproteksi dengan alasan syirik. Oleh karena itu perlu diberikan penekanan khususnya kepada generasi muda bahwa dalam melaksanakan acara2 seperti ini semata-mata sebagai upaya pelestarian budaya leluhur dan menarik kunjungan wisatawan tanpa dicampurbaurkan dengan agama.

    1. Betul bang masing masing daerah memiliki budaya budaya yang unik sehingga kita bisa berbangga menjadi bangsa Indonesia yang majemuk, Terima kasih kang atas warnanya

  2. Selamat siang kang zipoer7.
    Berkunjung lagi.
    Saya mengamati, dalam tradisi2 seperti yang diceritakan di atas, ada beberapa hal yang agak bertentangan dengan keyakinan agama. Tetapi, saya biasa menyikapinya dengan menganggapnya sebagai sebuah tontonan saja. Secara prinsip itulah memang keanekaragaman budaya nusantara yang pantas dihormati.

    Salam.

    1. Setuju kang banyak nilai nilai budaya yang tidak sejalan deng kepercayaan yang kita anut, selagi kita bisa membedakan mana yang menjurus kepasikan maka kita tetap terjaga, dan nilai nilai budaya mampu kita pahami, terima kasih kang atas warnanya

  3. kadang suka pengen lihat ritual kayak begini mas ketika berkunjung ke suatu daerah. namun pas ke kalsel saya belum menyaksikannya. Pun waktu di Kaltim saya belum menyaksikan kebiasaan/ acara budaya daerah setempat.
    Inspiratif Mas, kelak jika mengunjungi lagi harusnya menjadi catatan untuk melihat keunikkan budaya negeri.
    Trims.
    Salam hangat selalu 🙂

  4. Oo… jadi salah satu hidangannya adalah lemang toh, dan yang memasak adalah kaum perempuan. Yang laki-laki kebagian jatah masak nasi, karena masak nasi untuk hajatan itu perlu tenaga yang kuat ya Pak 🙂

  5. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  6. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  7. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  8. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  9. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  10. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  11. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  12. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  13. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  14. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  15. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  16. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  17. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  18. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  19. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  20. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  21. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s